Humanisme, “Memperkaya pengetahuan Teologi dan Etika KeKristenan Menggunakan Cara Bepikir Kaum Humanis”
I. Latar Belakang Masalah
Humanisme merupakan paham yang mendudukkan manusia sebagai fokus utamanya yang muncul sebagai paham yang menandai zaman renaisans. Mengenai renaisans, McGrath meemberi informasi yang penting, dalam era-renaisans manusia pertama kali mulai berpikir tentang diri mereka sebagai individu-individu sehingga memunculkan kesadaran individu yang mengalahkan kesadaran komunal. Zaman renaisans menjadi zaman yang human-centered, walau kemudian agama sama sekali tidak ditinggalkan, karena yang mencari pembaharuan pemikiran adalah orang Kristen semua. Tetapi fokus pemikiran berubah, khususnya tentang manusia yang kemudian melihat manusia sebagai individu yang mempunyai kemampuan, martabat, dan nilai sendiri. Walaupun humanisme Renaisans tidak bertentangan dengan agama, tetapi Renaisans telah menjadi suatu proses perkembangan panjang yang mengantar ke keadaan sekularisasi yang tampak di dunia barat pada akhir abad ke-20 dan permulaan abad ke-21.
Pada masa sekarang banyak orang atau jemaat yang menerapkan paham humanis ini dalam gereja tanpa mengetahui apakah ini sesuai dengan Etika yang berlaku dalam Kristen. Tujuan penulisan paper ini adalah sebagai arahan agar hal yang tidak sesaui dengan Etika Kristen tidak di terapkan dalam gereja dan jemaat dan meningkatkan kepedulian gereja dalam pendidikan anak dan remaja demi masa depan gereja.
II. Kajian Teoritis
1. Etkia Kristen
- Pengertian Etika Kristen
Etika Kristen Yunani: ethos, berarti kebiasaan, adat adalah suatu cabang ilmu teologi yang membahas masalah tentang apa yang baik dari sudut pandang Kekristenan. Apabila dilihat dari sudut pandang Hukum Taurat dan Injil, maka etika Kristen adalah segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allah dan itulah yang baik. Dengan demikian, maka etika Kristen merupakan satu tindakan yang bila diukur secara moral baik. Saat ini, permasalahan yang dihadapi etika Kristen ialah kehendak Allah dari manusia yang diciptakan menurut gambarNya, serta sikap manusia terhadap kehendak Allah itu.
Etika merupakan bagian studi aksiologi yang membahas seputar moralitas dan diartikan sebagai sebagai ilmu tentang kebiasaan atau perilaku manusia. Berdasarkan asal katanya, etika dapat diartikan sebagai sifat, kebiasaan ataupun watak. Etika merupakan filsafat moral yang berkenaan dengan nilai-nilai moral (akhlak), pertimbangan hal benar dan salah yang memengaruhi perilaku dan tindakan seseorang. Secara lengkap, etika dapat dipahami sebagai kajian moralitas yang membahas seputar keyakinan dan konsep nilai tentang hal baik dan buruk, benar atau salah, seharusnya atau tidak seharusnya. Selain itu, etika dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang nilai moral sebagai tolak ukur untuk menghasilkan tindakan yang tepat.
- Tujuan dari Etika Kristen
Etika sebagaimana yang termaksud di dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Jika dilihat di dalam PL, etika yang ada di sana seolah-olah etika itu datang dari Tuhan, bukan datang dari kesadaran moral manusia-manusia PL. Dengan demikian, seolah-olah etika tersebut hanya merupakan sarana bagi bangsa Isarel dan bukan hanya tujuan. Dikatakan sarana, karena bangsa Israel hanya menjalankan aturan etika yang datang dari luar (dari Tuhan), dan bukan dari kesadaran moral mereka sendiri. Hal tersebut dapat dipahami mengingat, bangsa Israel adalah bangsa yang memiliki agama Yudaisme, Yudaisme adalah agama yang datang dari Tuhan, itu sebabnya segala aturan yang ada, baik mengenai perilaku hidup kemasyarakatan, penyembahan, perekonomian, keluaga, seks, dan pendidikan, datangnya dari Tuhan.
Pembentukan karakter melalui pendidikan karakter menjadi bagian utama dan penting untuk dikembangkan. Pendidikan karakter merupakan bagian terpenting yang harus diwujudkan dalam dunia pendidikan bukan hanya sebatas penyaluran pengetahuan, melainkan juga mampu mencintai dan melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan nilai yang berlaku. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai suatu tindakan sadar yang dilakukan secara berkelanjutan dalam rangka membentuk karakter siswa yang secara kognitif paham akan nilai yang baik, mencintai nilai, dan melakukan tindakan yang berdasar pada nilai tersebut.
- Dasar-Dasar Etika Kristen
Etika merupakan refleksi atas moralitas. Akan tetapi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, etika bukan sekedar refleksi tetapi refleksi ilmiah tentang tingkah laku manusia dari sudut norma-norma atau dari sudut baik dan buruk. Oleh karena itu, yang menjadi pusat penelitiannya bukan hanya prinsip-prinsip dan patokan-patokan moral semata, tetapi manusialah yang menjadi inti penelitiannya. Etika Kristen tidak bisa dilepaskan dari asumsi-asumsi dasar iman Kristiani. Meskipun demikian berdasarkan pengamatan sekilas, penulis melihat bahwa agaknya Etika Kristen tidaklah sedemikian berbeda dengan etika-etika lainnya sehingga tidak bisa didialogkan. Menurut Eka Darmaputera bahwa Etika Kristen, seharusnya terbuka dan dinamis bergerak dalam ruang maupun waktu oleh karena ia pertama-tama adalah etika. Kemudian Darmaputera menyarankan bahwa dalam melakukan analisa etisnya, etika Kristen harus merupakan interaksi antar disiplin ilmu dan selalu berorientasi kepada hal-hal yang konkret yang terjadi di dalam masyarakat. Etika Kristen harus terlibat aktif berdialog dengan etika lainnya untuk ikut memecahkan persoalan yang ada di dalam masyarakat.
2. Humanisme
- Pengertian Humanis
Secara etimologis, kata "humanisme" (Indonesia) atau humanism (Inggris), umanista (Italia), humanismus (Jerman) berasal dari kosa-kata Latin, humanus. "humanisme" tersusun dengan kata “human“ dan ditambah dengan imbuhan “isme”. Kata human berarti bersifat manusiawi, atau berperikemanusiaan, dan isme berarti paham atau aliran. Dengan demikian secara leksikografis, kata "humanisme" yang berarti: "1) paham/aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan dan mencita-citakan pergaulan hidup yang lebih baik 2) paham/aliran yang menganggap manusia sebagai objek studi terpenting; 3) kemanusiaan.
Semula humanisme adalah gerakan dengan tujuan untuk mempromosikan harkat dan martabat manusia. Sebagai pemikiran etis yang menjunjung tinggi manusia. Humanisme menekankan harkat, peran, tanggugjawab menurut manusia. Menurut humanisme manusia mempuyai kedudukan yang istimewa dan berkemampuan lebih dari mahluk yang lain karena mempunyai rohani dan perasaan. Pandangan humanisme membuat manusia sadar kembali tentang harkat dan martabat manusia sebagai mahluk rohani. Etika rohani mendasari manusia untuk bertangungjawab dalam kehidupan di dunia.
Pada dasarnya istilah humanisme mempunyai riwayat dan pemaknaan yang kompleks. Humanisme sebagai sebuah istilah mulai dikenal dalam wacana filsafat sekitar abad ke 19. Menurut K. Bertens, istilah humanisme pertama kali digunakan dalam literature di Jerman, sekitar tahun 1806 dan di Inggris sekitar tahun 1860. Humanisme diawali dari term humanis atau humanum (yang manusiawi) yang lebih jauh dikenal, yaitu mulai sekitar masa akhir zaman skolastik di Italia. Istilah humanis (humanum) tersebut dimaksudkan untuk menggebrak kebekuan gereja yang memasung kebebasan, kreatifitas, dan nalar manusia yang diinspirasi dari kejayaan kebudayaan Romawi dan Yunani. Gerakan humanis berkembang dan menjadi cikal bakal lahirnya renaissance di Eropa.
Erasmus adalah salah seorang pelopor humanisme yang telah melakukan reformasi keagamaan dalam menghadapi eksklusivitas dan monopoli para elit gereja. Dia berjuang keras untuk menghapus peranan para penguasa gereja sebagai perantara antara Tuhan dan manusia. Dia mengatakan “jalan itu mudah dan terbuka untuk siapa saja. Bekal perjalanan kalian hanya jiwa yang bersih dan lapang serta adanya keimanan yang cemerlang dan murni dalam hati kalian”.
Humanisme pada masa Renaisans memiliki karakteristik sebagai satu model pendidikan yang memandang manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya, menempatkan seluruh potensi yang ada dalam diri manusia untuk digali dan dikembangkan. Intelektual dan rasional menjadi karakteristik dari Humanisme Renaisans. Disisi lain, searah dengan hal tersebut, Jonathan H. Kim melihat bahwa tujuan keseluruhan dari pendidikan Renaisans adalah untuk meningkatkan kesadaran akan nilai, martabat, dan kemampuan manusia, pendidik Renaisans berfokus
pada pengembangan individualitas melalui lensa humanis; dengan penekanan utama adalah transformasi keberadaan sebagai manusia daripada transmisi pengetahuan semata. Apa yang dapat kita pelajari dari pendidikan renaissance, menurut Kim adalah “Europeans began defining the nature of reality solely based on an anthropocentric worldview, placing human dignity and its potentiality at the core of thinking.” (Orang Eropa mulai mendefinisikan hakikat realitas semata-mata berdasarkan pandangan dunia antroposentris, menempatkan martabat manusia dan potensinya sebagai inti pemikiran.)
Pendekatan humanisme dikenal dengan slogannya yaitu ad fontes, yang merupakan ciri khas dari reformasi di abad pertengahan. Slogan ini mengingatkan untuk kembali kepada sumber-sumber asli ya itu Alkitab dan tulisan-tulisan patriarch. Slogan ad fontes berarti kembali ke dokumen-dokumen yang sah dari ke kristenan yaitu penulis-penulis patristis dan yang paling utama adalah Alkitab. Hal ini juga diiringi dengan kebangkitan humanis yang memiliki semangat dalam meneliti kebenaran Alkitab dan memberikan sumbangsih yang besar dalam pembaharuan gereja. Para reformator mengumandangkan jeritan dari kaum humanis, yaitu “kembali ke sumber-sumber (ad fontes),” kembali kezaman keemasan gereja supaya mendapatkan kembali kesegaran, kemurnian dan vitalitasnya di tengah-tengah suatu zaman yang mandeg dan korup.
- Kristianisme sebagai Humanisme
Manusia adalah pengada yang multidimensional. Tentu saja manusia yang multidimensional tidak bisa dilepaskan dari konsepsi suatu agama. Agama secara umum dapat diartikan sebagai aturan atau tata cara hidup manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Dari pengertian agama inilah dalam setiap agama terkandung suatu unsur atau kekuatan supranatural (adikodrati) yang mengatasi manusia. Kekuatan itu mendatangkan rasa tunduk, hormat, sekaligus menarik manusia untuk meminta perlindungan ke sana. Pengamatan terhadap kehidupan dan kebiasaan keagamaan manusia terungkap dalam sikap keagamaannya, dalam tindakan-tindakannya seperti doa, upacara-upacara kurban dan sakramen, konsep-konsep religiusnya sebagaimana termuat dalam mitos-mitos dan simbol-simbol, kepercayaan kepercayaannya berkenaan dengan yang suci, makhluk-makhluk supernatural, dewa-dewa, dsb. Fenomenologi agama inilah yang menjadi obyek berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi-antropologi agama, pisikologi agama, filsafat agama, dan teologi agama.
Keselamatan adalah pokok kajian dalam setiap religiositas, tak terkecuali Kristianisme. Untuk itu menurut Karl Rahner, agama Kristen memandang keselamatan tidak hanya menyangkut segi rohani manusia, tetapi juga menyangkut semua dimensi eksistensial manusia. Semua yang manusiawi bersifat rohani dan segala yang rohani bersifat manusiawi, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan apalagi dipertentangkan. Pemahaman yang demikian ini dikemukakan oleh Karl Rahner dalam tulisannya, Christian Humanisme sebagai berikut:
''The theologian is aware that, according to Christianity, salvation is achieved not only within the explicitly religious sphere but in all dimensions of human exsistence, Thus he is aware that in this sense the whole of human sphere is religious and the whole of religious sphere is human. (Sang teolog menyadari bahwa, menurut agama Kristen, keselamatan dicapai tidak hanya dalam lingkup agama yang eksplisit tetapi dalam semua dimensi keberadaan manusia. Dengan demikian, dia menyadari bahwa dalam pengertian ini seluruh lingkungan manusia adalah religius dan seluruh lingkungan religius adalah manusia)
Dengan demikian dalam iman Kristiani telah termuat suatu konsepsi tentang manusia dan dunia, yang juga disebut humanisme Kristiani. Kristianisme adalah sebuah agama yang manusiawi dan sungguh memanusiakan manusia, sebagaimana dengan setiap pandangan religius lainnya. Bagaimana Kristianisme semakin memanusiakan manusia, Molnar melihat bahwa Kristianisme sebagai suatu ideology mampu memberikan berbagai sumbangannya kepada umat manusia tidak hanya di dalam lingkup iman dan keagamaan, tetapi juga dalam berbagai bidang kehidupan yakni di bidang ilmu pengetahuan, sejarah, politik dan sosial.
Karl Rahner mengatakan tentang hubungan Kristianitas dengan humanisme, Rahner melihat adanya keterkaitan dan bahkan kesatuan antara Kristianitas dengan humanisme. Keterkaitan dan kesatuan antara iman Kristiani dengan humanisme terletak dalam faktisitas bahwa dalam Kristianisme dapat ditemukan suatu konsepsi tentangmanusia dan dunianya, yang merupakan objek formal dan material dari kajian setiap humanisme. Manusia dan dunianya menjadi titik tolak humanisme, tidak terkecuali humanisme Kristiani. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa secara faktual dan konseptual terdapat suatu humanisme Kristiani.
- Humanisme Tidak Bertentangan dengan Kristen
Bagi H. J. Blackham, misalnya, humanisme bukanlah Kristianisme minus iman. Menurutnya, humanisme berawal dengan sebuah dunia yang di dalamnya iman Kristiani dan segala bentuk humanisme sangat dimungkinkan. "Kesepuluh prinsip dasar humanisme", sebagaimana yang dikemukakan oleh Corliss Lamont menyatakan bahwa humanisme pada dasarnya merupakan sebuah pandangan yang sangat positif tentang manusia. Humanisme sungguh-sungguh dipandang sebagai paham yang mengakui dan menjunjung tinggi martabat dan segala kemampuan dan kebebasan yang dimiliki oleh manusia di dalam usahanya untuk menciptakan tatanan hidupnya sedemikian rupa sehingga manusia dapat mencapai tujuan hidupnya yakni kebahagiaan atau kesejahteraan. Menurut humanisme, manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan istimewa dan berkemampuan lebih dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain di dunia karena ia bersifat rohani. Pemahaman yang demikian ini tentu saja sejalan dengan pemahaman Kristiani akan manusia, yang merupakan citra Allah dan berkuasa atas ciptaan-ciptaan lainnya (lih. Kej 1:27-28). Sejalan dengan itu, Gereja juga mengakui bahwa segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya. Pengakuan Gereja akan manusia sebagai pusat dan puncak pengada di dunia ini tidak terlepas dari tugas perutusan Gereja yang justru tertuju pada manusia itu sendiri.Humanisme sebagai paham tentang manusia dan sebagai pemikiran etis telah berjasa mengembalikan harkat dan martabat manusia, menyadarkan manusia akan potensinya, dan menandaskan tanggung jawab manusia dalam hidupnya. Namun, demikian ada bahaya bahwa humanisme terlalu menekankan segi positif manusia saja. Inilah suatu pandangan humanistis yang berat sebelah atau kurang realistis. Pandangan yang berat sebelah dan kurang realistis tentang manusia itu, menawarkan untuk menjadikan manusia sebagai ukuran dan kriteria segala-galanya. Tentu saja pemahaman yang demikian ini tidak dapat diterima. Agar kokoh, ukuran dan kriteria harus dicari di tempat lain. Ukuran dan kriteria itu harus tetap, konsisten, stabil, kokoh dan tak tergoyahkan, yakni Tuhan sendiri.
- Penerapan Dalam Kehidupan Penyesuai dengan Etika Kristen
Untuk mengkaji hubungan humanisme dengan iman kepercayaan Kristiani, seorang teolog Kristiani perlu mencari dasar-dasar kecocokan suatu humanisme dengan iman kepercayaan Kristiani, terutama dalam Alkitab. Gereja yang diam di antara manusia wajib menyelidiki tanda-tanda zaman dan menafsirkannya dalam terang Injil. Gereja ikut menghayati aspirasi-aspirasi manusia yang amat luhur, membantu manusia untuk menemukan realisasi mereka seutuhnya. Maka Gereja menyampaikan sumbangannya yang khas: suatu perspektif global mengenai manusia dan realitas-realitas manusiawi. Alkitab, dalam referensinya kepada Kristus adalah tolak ukur pertama dan utama bagi semua macam humanisme. Selain itu seluruh sejarah pemahaman wahyu dan kepercayaan Kristiani lebih lanjut, dipakai sebagai pegangan. Hal yang sama juga terjadi kalau kita mau mendekati keseluruhan realitas melalui pengalaman manusia dan melalui pengetahuan manusia yang termuat di dalamnya, yang merupakan isi pemahaman manusia tentang dirinya sendiri dan seluruh realitasnya.Humanisme Kristiani menganggap penting untuk mengakui otonomi-relatif pada strata-strata yang tidak langsung menyangkut wahyu dalam pribadi Yesus Kristus. Nilai-nilai dan norma-norma manusiawi mewujudkan suatu stratifikasi. Diakui kewibawaan strata lebih tinggi setiap kali berhadapan dengan strata yang lebih rendah, tetapi setiap strata dan substrata dalam hidup manusia yang lebih rendah. memiliki dinamika intrinsik pribadi.
III. Analisa Penyeminar
Warisan akal budi reformasi adalah hal yang berharga dalam kekristenan reformatoris, terbukti bahwa prinsip-prinsip Reformasi tetap relevan bagi kekristenan saat ini. Warisan itu telah menanamkan nilai-nilai penting bagi tenaga pendidikan
Kristen untuk menyiapkan peserta didik yang memiliki keseimbangan dalam intelektualitas dan kesalehan. Sebuah jawaban yang menjadi kebutuhan dalam menghadapi tantangan dunia global. Dengan menjaga dan memperjuangkan keseimbangan tersebut, pendidikan dalam Gereja harus mampu menjadi pendidik yang holistik dan integratif dalam mempersiapkan para warga gereja di era global ini.
Humanisme dan keKristenan memiliki pertemuan dalam golongan Kriten Humanisme, dimana juga dijelaskan bahwa Kristen Humanisme itu juga mengakui dan bahkan menerpkan Firman Allah. Hanya saja jika terlalu mendalami Humanisme makan akan jatuh kedalam Humanis Ateis. Humanisme ateis adalah golongan yang menolak keberadaan Tuhan dalam kehidupan mereka. Dan fungsi Etika Kristen adalah mencegah kita jatuh kedalam golongan Humanisme Ateis. Untuk perkembangan terakhir hingga zaman sekarang, ada begitu banyak variasi dalam humanisme Kristiani karena setiap pemikir Kristiani yang berkompeten berusaha membuat sintesis pribadi yang menurutnya paling cocok. Usaha sintesis yang dilakukan oleh setiap pemikir Kristiani tetaplah ditempuh tanpa pertentangan dengan etika Kristen yang ada.
IV. Saran
Ditegaskan bahwa berhadapan dengan segala macam bentuk humanisme, umat Kristiani perlu mengambil sikap. Pertama-tama, perlulah diyakini bahwa humanisme tidak mutlak bertentangan dengan iman Kristiani Itu berarti, pada dasarnya Kristianisme adalah sebuah agama yang sungguh memanusiakan manusia, sebagaimana dengan ,setiap pandangan religius lainnya.
pemberi pengajaran kepada warga gereja harus menerapkan prinsip seperti kaum humanisme yang berpikir luas, dan harus memiliki keyakinan seperti orang Kristen yang mengakui Allah dan kasih-Nya kepada kita (Bebas tapi terbatas). Dalam hal ini, manusia harus tetap bersikap religius oleh karena ilmu-ilmu pengetahuan tidak berhasil untuk menjelaskan segala yang ada. Untuk itu manusia seharusnya mencari apa yang belum jelas baginya. Titik tolak pencarian itu adalah sikap saintisme dengan menjauhkan teori finalitas.
Hal yang manusiawi yang dipandang positif Injil oleh iman Kristiani senantiasa diperhadapkan dengan dan diperkaya oleh iman dalam Kristus. Itu berarti humanisme tentu saja diakui oleh umat Kristiani secara konseptual maupun dalam praksis. Akan tetapi bahwa baik umat Kristiani tentu saja perlu bersikap kritis, tidak menerima begitu saja segala bentuk pemahaman dan praksis humanisme yang dengan dalil menjunjung tinggi martabat pribadi manusia dengan segala kemampuannya sedemikian rupa sehingga memandang manusia sebagai pusat segala-galanya dan timbullah penolakan akan hakekat dan peranan Allah Adikodrati atas manusia.
Dalam peraturan PGI yang terkandung dalam Pokok-Pokok Panggilan Bersama (PPPB) memuat mengenai keharusan gereja untuk membentuk persekutuan yang inklusif terhadap sesama manusia. Hal tersebut ditunjukkan melalui sikap gereja yang harus meningkatkan hubungan dan kerjasama antar umat beragama serta percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi baik itu masalah kemiskinan, keadilan, perdamaian dan lain sebagainya. Secara realitas aturan PGI berbeda dengan gereja secara umum. Sebab hubungan dan kerja sama antar umat beragama belum terlaksana dengan baik sebab masih ada gereja yang bersifat eksklusivitas. Selain itu, gereja-gereja terkesan bungkam atas sikap diskriminasi dan penindasan yang terjadi pada masa kini sehingga memanusiakan manusia pun sulit dilakukan dalam bentuk praksis. Dengan demikian seharusnya gereja merefleksikan setiap kekurangan dan melakukan tindakan memanusiakan manusia sebagai upaya dalam meneladani tindakan Yesus. Salah satu upaya untuk memanusiakan manusia ialah bersikap inklusif, toleransi dan membantu sesama manusia yang berkekurangan.
V. Kesimpulan
Setelah beberapa hal dibahas pada bagian-bagian terdahulu, sebagai bagian akhirakan diberikan suatu kesimpulan umum mengenai pokok-pokok yang telah dibahas. Pemahaman Humanisme sudah ada dalam kehidupan kita baik dalam keluarga dan gereja, hal ini sudah ada semenjak zaman renaisans. Menurut humanisme, manusia adalah makhluk yang mempunyai kedudukan istimewa dan berkemampuan lebih dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain di dunia karena ia bersifat rohani. Pemahaman yang demikian ini tentu saja sejalan dengan pemahaman Kristiani akan manusia, yang merupakan citra Allah dan berkuasa atas ciptaan-ciptaan lainnya. Humanisme Kristiani tidak saja menunjuk pada suatu pemahaman terutama tertentu menunjuk tentang manusia, tetapi juga dan pada suatu prinsip tertentu yang senantiasa mendasari proses pemahaman humanisme Kristiani.
Etika Kristen merupakan tanggapan kepada kasih karunia dan pekerjaan Allah yang telah menyelamatkan manusia dari dosa. Titik acuan etika Kristen adalah kebenaran firman Allah yang dinyatakan dalam Alkitab, sesuatu yang mengarah pada firman Tuhan. Artinya sesuatu yang benar tidak akan bertentangan dengan firman Tuhan. Etika Kristen bukan hanya aturan-aturan abstrak tetapi juga ada contoh-contoh nyata tentang etika Kristen dalam Alkitab, baik dalam aturan-aturan atau perintah-perintah yang dilakukan dengan baik ataupun perilaku melanggar aturan-aturan atau perintah-perintah Allah.
VI. Daftar Pustaka
…, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Dalai Pustaka, 1994
Bertens, K. Johanis Ohoitimur, dan Mikhael Dua, Pengantar Filsafat , ed. Widiantoro Yogyakarta: Kanisius, 2018
Bertens, K., ETIKA, Jakarta, 2007
Blackham, Humanisme, Haraondsworth: Penguin, 1968
Dalam Katekismus Gereja Katolik, no. 156-157 terj. P. Herman Embuiru, SVD, Ende: Arnoldus, 1995
Darmaputera, Eka., Etika Sederhana untuk semua; perkenalan pertama, Jakarta, 2001
Dhavoany, Mariasusai., Phenoaenoloqy of Religion atau Fenoaenoloqi Agama, Yogyatarta: Kanisius, 1995
Ensiklopedi Hasional Indonesia, Jakarta: PT Cipta Adi Pustata, 1990
Fletcher, Verne H., LIHATLAH SANG MANUSIA! ; Suatu Pendekatan pada Etika Kristen Dasar, Jakarta, 2007
Geisler. Norman L., Etika Kristen, Malang: Seminari Alkitab Asia Tenggara,2000
Hardawiryana, Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Obor 1993
http://curusetra.wordrpress.com/tag/spirituaLISME, dikutip pada tanggal 12 November 2021, Pukul 05.13PM
Huijbers, Th., OSC, Manusia mencari Allah Yogyakarta: Kanisius, 1982
Kim, Jonathan H., “Renaissane Education: Education for Individuality (A.D. 1320-1600),” dalam The Heritage of Christian Education, ed. James Riley Estep Missouri: College Press Publishing Company, 2003
Lamont, C., The Philosophy of Humanism, New York: The Wisdom Library 1957
Latourelle & Fisichella, Rino., Dictionary of Fundaoental Thooloqy, Eng. Edition, New York: The Cross Publishing Company, 1941
Mc Grath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999
McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012
Moedjanto, G. MA, dkk. Yogyakarta: Kanisius, 1994
Probosusanto, Agustinus., 'Humanisme Universal Sebagai Tantangan Pluralisme Agama Bagi Masyarakat Indonesia', dalam Driyarkara, No. 111/4 1 Hlm. 38-39
Rahner, Karl., 'Christian Humanis', dalam Theological Investigations, terj. Graham Harrison, London: Darton, Longoan & Todd, 1972) 1 Vol. IX
Rahner, Karl., 'Christian Humanis', dalam Theological Investigations
Rahner, Theoloqical lnvestiqations, Op. Cit.,
Russell, Bertand., Sejarah Filsafat Barat, dan kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno higga sekarang, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
T.Molnar, Christian Humanisme ; a Critique of the Secular City and It's Ideology, Chicago: Franciscan Herald Press 1979
Verkuyl. J., Etika Kristen bagian Umum, Jakarta: BPK Gunung Mulia 1993
Tidak ada komentar:
Posting Komentar